Batu Merah Delima

batu-delima-merahBanyak berita beredar di masyarakat bahwa batu merah delima adalah batu Gaib atau ajaib, sebenarnya Batu merah delima adalah sejenis batu permata, Batu ini berwarna merah gelap dan nampak seperti merah darah, lebih dikenal dengan Rubby Sappire, batu merah delima ini banyak di yakini dapat mengeluarkan energi positif, sehingga orang-orang dahulu menjadikannya sebagai alat untuk pengobatan alternatif,

Yang membedakan batu Mirah Delima dengan mustika Merah Delima salah satunya menurut kitab kuno Selo Pepelikan adalah dikatakan bahwa batu Mirah Delima yang tulen (asli) berwarna merah seperti buah delima. Dan bisa jadi bila mustika batu tersebut sudah pernah jadi milik orang lain yang Linuwih, seperti Raja Gung Binathara, orang-orang suci semacam Wali, Aulia, dll.

cek merah delima asli

Cara praktis untuk menguji keaslian batu mustika ini, bagi orang awam cukup dimasukkan dalam gelas akan memancarkan warna semburat kemerahan. Khasiat secara umum, adalah: ora tedas tapak palune padde (kebal), yang memiliki akan ditinggikan derajatnya.

Menurut sejarah gaib, awal terciptanya Merah Delima dari pusarnya Shang Hyang Wisnu yang tumbuh bunga tunjung (teratai). Dari tunjung inilah keluar Shang Hyang Brama, yang kemudian menciptakan jagad raya dengan segala isinya.

Dari sinilah Hyang Brama merupakan perlambang Makartining Gesang. Sedang Shang Hyang Wisnu kemudian bergelar Padmanaba atau Pusar Bunga Teratai, yang berarti membuahkan kehidupan (Makartining Gesang). Loro-ning-atunggal (dua tapi satu) senyatanya hidup ada di rasa karena hidup. Ibaratnya madu dan manisnya, matahari dan sinarnya.

Di bumi Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, mustika Merah Delima banyak ditemukan di bekas reruntuhan keraton, misalnya bekas keraton Majapahit atau keratorn pelarian Brawijaya Gunung Lawu (Argo Dumilah). Khasiatnya bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit parah, muntah darah, penyakit yang berasal dari Black Magic, dll serta sebagai pepeling (peringatan/warning leluhur) jangan memakai batu yang retak-retak, buruk efeknya. Wallahu A’lamu Bisshawab.